Gaji, Interview, Portofolio: 3 Hal yang Gak Diajarin di Kuliah

Lo bisa nulis kode, tapi pas interview grogi. Pas ditanya gaji lo jawab sekenanya. Pas diminta portofolio lo kirim link GitHub isi tutorial. Ini cara ngatasinnya.

· · 8 min read

Gaji, Interview, Portofolio: 3 Hal yang Gak Diajarin di Kuliah

Lo udah bisa nulis kode. Lo bisa React, Lo paham API, Lo bahkan punya beberapa project di GitHub. Tapi pas interview, lo grogi. Pas ditanya "ekspektasi gaji lo berapa?" - lo jawab sekenanya. Pas diminta portofolio, lo kirim link GitHub yang isinya tutorial doang.

Gue pernah di posisi itu. Beberapa kali. Dan setelah ngalamin sendiri plus ngobrol sama rekruter, senior engineer, dan orang HR - ini yang gue pelajarin.

---

Negosiasi Gaji: Jangan Jadi Orang Baik

Orang Indonesia punya kebiasaan: gak enakan. Pas ditanya gaji, banyak yang jawab "terserah perusahaan aja" atau "yang penting bisa belajar." Itu kesalahan paling fatal.

Kenapa lo harus negotiate:

Pertama, kalo lo gak negotiate, perusahaan gak bakal ngasih maksimal. Budget mereka selalu punya range. Misal range Rp15-25 juta. Kalo lo bilang Rp15 juta, mereka seneng. Bukan karena lo murah, tapi karena lo kasih harga minimal tanpa diminta.

Kedua, kenaikan gaji tahunan biasanya cuma 5-10%. Jadi selisih Rp5 juta di awal artinya lo kehilangan potensi Rp50-100 juta dalam 5 tahun. Compounding works against you kalo lo gak negotiate dari awal.

Cara ngomongnya gimana:

"Berdasarkan riset saya dan pengalaman yang saya punya, ekspektasi saya di range Rp20-25 juta. Saya open untuk diskusi lebih lanjut."

Simple. Lo kasih range, bukan angka pasti. Kalau mereka bilang budget cuma Rp18 juta, lo tinggal bilang:
"Saya paham. Mungkin kita bisa diskusi soal benefit lain? Atau ada kemungkinan review di 6 bulan?"

Ini bikin lo keliatan profesional, bukan matre.

Yang jangan lo lakuin:

• Jangan ngasih angka duluan kalo bisa. Tanya balik: "Untuk posisi ini, budgetnya di range berapa?"
• Jangan berbohong soal gaji sebelumnya. Mereka bisa cek.
• Jangan terima pas tawaran pertama. Selalu minta waktu mikir minimal 1 hari.

Ilustrasi: Grafik kenaikan gaji karir developer

---

Technical Interview: Yang Paling Ditakutin

Gue benci technical interview. Sampe sekarang. Bukan karena gak bisa jawab, tapi karena formatnya seringkali gak relevan sama kerjaan sehari-hari.

Tapi sayangnya ini masih jadi standar. Jadi lo harus maenin game-nya.

Yang beneran dinilai (urut berdasarkan prioritas):

1. Cara lo berpikir - bukan jawaban bener atau salah. Rekruter mau liat lo breakdown problem, tanya clarifying questions, dan explain approach lo.
2. Komunikasi - kalo lo diem sambil ngetik, lo udah gagal. Bicarain apa yang lo pikirin. Even kalo jawabannya salah, lo bisa dapet point karena approachnya bener.
3. Hasil akhir - baru ini. Kode lo jalan atau gak.

Tips yang jarang dibahas:

Jangan buru-buru nulis kode. Sebelum lo sentuh keyboard, pastikan lo paham problemnya. Tanya: "Apakah inputnya selalu valid?" "Ada batasan ukuran data?" "Prioritasnya readability atau performance?" Ini langsung bikin lo keliatan beda dari 90% kandidat lainnya.

Pseudocode duluan. Tulis langkah-langkahnya pake komen atau bahasa manusia dulu. Baru implementasi. Ini nunjukin lo punya struktur berpikir yang rapi.

Kalo mentok, bilang. "Saya gak yakin sama pendekatan ini, tapi menurut saya...," itu sah-sah aja. Yang gak boleh: diem aja.

Belajar pola, bukan jawaban. LeetCode / HackerRank itu alat, bukan tujuan. Lo gak harus hafal 500 soal. Cukup 50-100 soal dengan pola yang bervariasi: two pointers, sliding window, DFS/BFS, dynamic programming dasar.

---

Portofolio vs Pengalaman: Mana yang Lebih Bobot?

Jawaban singkatnya: pengalaman. Tapi kalo lo baru lulus atau gak punya pengalaman, portofolio bisa jadi penentu.

Yang dicari rekruter di portofolio:

Bukan jumlah project. Bukan UI yang cantik. Mereka mau liat: lo bisa ngelarin sesuatu dari awal sampe selesai.

Satu project yang deployed, dipake orang, dan lo bisa explain setiap keputusan teknisnya - itu lebih berharga dari 10 project tutorial yang cuma di GitHub.

Portofolio yang kuat:

• Problem nyata. Bukan "todolist app" atau "cuaca app". Cari masalah di sekitar lo. Aplikasi catatan keuangan pribadi? Tool buat ngatur jadwal shift karyawan UMKM? Apapun yang lo bikin karena *butuh*, bukan karena *tugas*.
• Ada bukti dampak. "Digunakan oleh 50 orang di komunitas saya" - itu lebih bunyi dari "dibuat pake React Native."
• Kode bersih. Lo gak perlu kode sempurna. Tapi README yang rapi, struktur folder yang jelas, testing dasar - itu udah cukup.

Ilustrasi: Layar laptop dengan kode

Sedangkan pengalaman kerja:

Pengalaman ngajarin lo hal yang gak bisa lo dapet dari project pribadi: kode warisan (legacy), tekanan deadline, kerja sama tim, dan prioritas bisnis. Ini yang bikin pengalaman selalu lebih berat daripada portofolio.

Tapi kalo lo gak punya pengalaman, jangan putus asa. Banyak cara lain:
• Kontribusi open source - mulai dari fix typo di dokumentasi, naik ke bug fix, lalu fitur kecil. Ini keliatan di riwayat GitHub lo.
• Freelance kecil-kecilan - ambil project murah atau bahkan gratis demi portofolio.
• Tulis artikel teknis - kayak yang lagi lo baca ini. Nunjukin lo paham apa yang lo omongin. Banyak rekruter yang bilang kandidat yang nulis blog teknis biasanya lebih unggul di komunikasi.

---

Kesimpulan (yang Sebenernya Gak Penting)

Lo gak harus jago di semua tiga hal ini. Paling penting: jujur sama kemampuan lo, tapi jangan ngerendah.

Negosiasi gaji itu skill yang bisa dipelajari, bukan bawaan lahir. Technical interview itu performance, bukan ukuran kecerdasan. Portofolio itu bukti kerja, bukan pajangan.

Kalo lo masih merasa kurang, wajar. Semua orang ngerasa itu. Yang beda cuma cara mereka ngadepin.